Labuhan

“Arya…”
“Yah..” suaranya lirih. memandang lekat
“Sebenarnya,…perempuan seperti apa yang kamu harapin ?”tanpa lepas menatap.
“Kenapa bertanya begitu ?”semakin lirih. sedikit heran merona.
“Aku…Takut…” terbata. kemudian berhenti.
“Takut…?”keheranan bertambah. “Kenapa ?” mengharap jawab.
“Aku takut sekali” mencoba menerobos gamang.
“Takut kenapa ?” erat menggenggam kedua tangan. “Bicara saja, jangan ragu”
“Aku takut,…takut tak mampu jadi sosok yang kamu inginkan,…takut tidak sesuai kriteriamu, Arya ” melawan tekanan. dengan menundukkan wajah.
“Tania…” dengan lembut menengadahkan wajah Tania.
“Dengarkan Arya ” menatap penuh harap kedua mata yang berlinang
“Aku telah sepenuhnya memilihmu, tiada ragu” mengulaskan senyum disela bicara
“Kalaulah saja, kriteria itu tidak dimilikimu” mengambil jeda sejenak
“Aku akan menghadirkannya untukmu” menghapus linangan air mata
“Kamu harus tahu itu, Tania” mencoba mengajak tersenyum
“Iya Arya…” lirih. “Aku sayang kamu” air matanya semakin deras berurai.
saling menatap. berurai air mata. berbalas senyum
Pic is from here


