termenung dan diam mematung. beringsut memeta jalan setapak. gelombang pasang menerjang hampir saja raga terjengkang. melayang dalam awan awan mengejang. terdampar dalam tekstur kasar dan sasar. entah kemana aku pergi dihembusi angin. aku terlelap lama dan tiada bersadar. arah mana jalan mana. selaksa pusaran memutar dan menghapus rasa sadar. aku tiada bisa bersandar. lemah terhempas. aku masih saja tak bisa bergerak, tergeletak. dalam ruang yang aku tiasa kenal tiada aku hapal. gelap pekat dan memekaki telinga. kerongkonganku kelu tak lagi bisa berteriak. menengadah pun aku tak mampu. tertunduk, tiada lagi kepaduan jiwa. luruh, lusuh terbungkus rimbun. aku masih melayang, mengambang. aku tiada terkekang tapi tak bisa bergegas terbang. aku masih terpekur dengan raga terbujur. semakin gelap, gulita. tiada lagi ranum, harum. seberkas asa pun serasa tak hendak. aku ingin berlutut memaku wajah ke alas tanah menjura rasa dengan purna. tapi aku masih terlentang terentang. kemana aku datang aku pulang. disaat jarum panjang jam bergegas mengulang-ngulang hari, pagi, malam hari. meninggalkan pusara pusara yang semakin lama berserak banyak. jiwa raga melepas kuasa. aku masih bermimpi dan dalam mimpi menggapai-gapai kecahayaan alam, keajaiban pualam. mataku terbuka mencoba menelisik sekeliling. kabut kabut mengelilingi mengisi ruang yang sudah sesak dengan tulisan tulisan di kepala tentang harap, bintang dan terang. seperti akan terus meneriaki memaki kesemua yang tiada ingin kuakhiri. benturan benturan merusak kekuatan, kesungguhan. menggerogoti ketautan. bercecer darah darah bertebar. meratap rasa dalam pertarungan pertarungan tanding. aku masih tetap memeta pijak dan tak hendak beranjak hilap barang setapak. sampai aku bisa meletakkan kening dan otak bagian belakang terhimpit hening dan warna darah menjadi bening.