Pataka
aku tahu risiko yang hadir dikala pataka kupegang
bukan sekedar lelah pedih perih, tapi nyawa bentuk taruhannya
karena aku yakin nilai keberdiriannya adalah buat utuh dan terjaganya nyawanyawa
bukan semata aku tapi peruntukkannya adalah aku yang lain.
meskipun lunglai, tapi tidak boleh terlalai.
dan tekadku utuh sebagaimana prajuritprajurit luhur duludulu; yang masih menempat harga sebuah bakti diatas mati, sekalipun.
jikasaja tangan kananku lepas tertebas, tangan kirilah kemudian bertugas.
kala tangan kiri terampas, lengan-lengan inilah yang mesti memegang dan kemudian;
mulut, dada, seluruh raga, bergantian.
mestilah jika semua telah purna berpersembahan, dan raga ini bersimbahan.
jiwa membara tetap berharap. demi jiwajiwa, pataka ini kupersembahkan;
kibarkan, berdirikan, jangan kau siakan.
biarlah kusematkan utuh pataka ini dalam dada dalamdalam. menemani sepi sepi
vincent setyadi


