“saya duduk, dan berusaha untuk bersabar.menunggu dia selesai bersantap pagi. jarum panjang mengarah ke angka 10 dan jarum pendek mengarah diantara jam 7 dan 8. saya hapal betul, untuk jalan ke depan garasi saja dia butuh waktu 3 menit, belum lagi manasin mesin yang kadang butuh waktu lima menit. kalau diitung-itung saya butuh alokasi waktu hampir 25 menit buat nungguin dia melakukan tektek bengek, padahal saya hanya perlu beberapa detik saja agar kendaraan dia lenyap dari depan garasi sampai kendaraan saya ngeloyor keluar”
Seringnya.Seperti manusia lain, kita ingin mendapat perlakuan yang minimal sama atas perlakuan kita terhadap oranglain. Namun karena kelewat berharap, terkadang kekecewaan kerap menyelinap dalam relung hati, sedih dan merasa diperlakukan tidak adil. Perwujudannya bisa beraneka ragam; membisu, memasang raut masam, mengomel, bahkan sampai ke titik kulminasi; marah dan caci maki.
Sebagai sebuah dari banyak entitas suatu hubungan, kita memang membutuhkan bumbu inti tepo seliro dalam pergaulan, meraba hati orang lain sebagaimana meraba hati sendiri. Mencoba merasa, andaikan diperlakukan,ketika kita akan memperlakukan orang lain. Setiap kita memiliki hati yang karakteristik dan responnya sama; sakit, sedih, kesal, sehingga kurang bijak rasanya kala kita menutup rasatahu akan hal itu.
Demi kejiwaan. Sebagai orang yang diperlakukan, ada baiknya kita berani bersikap tidak terlalu berharap kepada orang lain dan mencukupkan kepada pengharapan akan upaya dan daya sendiri. Ketika mau tidak mau harus melibatkan orang lain, penyiasatan sangat perlu agar respon apapun yang muncul tidak menghambat aktivitas kita. Dkala mendapat perlakuan seperti itulah, seyogyanya kita bertekad untuk tidak akan pernah melakukan hal serupa kepada oranglain. Karena ternyata, kita tidak nyaman mendapat perlakuan seperti itu.